Footstps 1.jpg

Kesadaran akan Allah di dalam Dinamika Religiusitas Manusia menurut Perjanjian Lam

Awareness of God in the human dynamic of religion according to the Old Testament

By Dr. Hery Susanto

Abstraksi

Kesadaran akan Allah merupakan dasar religius manusia di tengah perkembangan kehidupan manusia yang terus bergerak secara progresif. Perjanjian Lama memberikan kisah yang menceritakan tentang pergumulan manusia untuk dapat memahami dan mengenal eksistensi Allah di dalam realitas kehidupan mereka. Allah adalah nyata dan hadir di dalam setiap aspek kehidupan manusia. Jadi dalam tulisan artikel ini akan ditunjukkan mengenai pentingnya kesadaran akan Allah bagi kehidupan iman manusia hingga masa sekarang.

 

Kesadaran akan Allah di dalam Dinamika Religiusitas Manusia menurut Perjanjian Lam

Kesadaran secara umum dapat diartikan sebagai sebuah rasa kepekaan terhadap sesuatu hal yang direfleksikan dari hati dan menghasilkan pengertian.[1]  Pada intinya kesadaran merupakan hasil penyatuan antara hati dengan otak terhadap kebenaran yang sebenarnya. Di dalam Kamus Filsafat dikatakan bahwa kesadaran berarti        suatu pengalaman akan hal-hal dan kegiatan-kegiatan dari kesadaran seseorang seperti pencerapan, representasi, pikiran, perasaan, emosi, hasrat terhadap segala sesuatu.[2]   

Di dalam bahasa Inggris terdapat dua istilah yang berhubungan erat dengan kesadaran yaitu “consciousness” dan “awareness”. Consciousness  berasal dari bahasa Latin yaitu concentia yang artinya ‘mengerti dengan’.  Kata consciousness berarti “the state of being able to use your senses and mental powers to understand what is happening; or a state of being who aware of something.[3]

          Kata awareness berasal dari akar kata ‘aware’ yang lebih menekankan kepada kesadaran yang melibatkan segala pemahaman dan menghasilkan sebuah sikap tertentu terhadap suatu hal[4]. Istilah awareness mengedepankan tingkat consciousness yang lebih tinggi karena bukan hanya sekedar kognitif saja.[5]

          Edmund Husserl sebagaimana dikutip oleh Zaenal Abidin (202:147),  menyatakan:

Kesadaran adalah intensional yang mengarah kepada sesuatu yang disadari (yang disebut objek intensional atau normatic) dan setiap aktivitas menyadari (disebut aktivitas intensional atau noetic) adalah aktivitas menyadari sesuatu.

Pengertian Husserl mengenai kesadaran dikaitkan secara langsung antara obyek yang disadari (normatif) dengan sebuah kegiatan aktif menyadari (noetic).  Maka dapat disimpulkan bahwa kesadaran ini tidak hanya terbatas kepada pemahaman terhadap obyek, tapi berkorelasi dengan tindakan atau perbuatan yang menunjukkan kesadaran tersebut.

 
 

Response from Karen Yunia

Awareness of God is fundamental to human faith and the continual enrichment and development of life. Such awareness is more than a general perception: it is an engagement with an integral acquaintance, evoking specific actions that are sensitive to the character and quality of that relationship.

Essential questions of human existence call into question human identity: Who am I? Where do I come from? The core of this valuation eventually, is directed to the awareness and existence of a relational God. Scripture narrates the wrestling of human beings in acknowledging and understanding the presence of God amid human experience. Through these narratives, awareness of God continually develops; likewise, the social, religious, cultural and political dynamics of humanity are continually challenged and develop through the story of Israel.

The existence of God is pervasive in every aspect of human life and so an awareness of God animates human development and flourishing in all ages. God is the Alpha and the Omega—the beginning and the last—who is revealed and made known through Jesus Christ, so that we can grow in understanding and knowledge of God. Therefore, our awareness of God is dynamic and growing, personal and social, as God is disclosed to us.  


Kesadaran manusia menunjukkan sebuah eksistensi diri yang dipengaruhi oleh tiga sifat yaitu faktisitas, transendensi dan kebutuhan untuk mengerti.  Faktisitas berarti sebuah eksistensi yang selalu nampak di depan kesadaran manusia sebagai sesuatu yang sudah ada. Transendensi pada eksistensi manusia berarti suatu sifat yang nampak secara langsung dalam kesadaran manusia bahwa ia manusia, bukan hanya sekedar tubuh yang nampak dalam ruang dan waktu bersama ‘ada’ yang lain, namun manusia dapat melampaui dirinya melewati batas ruang dan waktu  dalam kesadarannya. Keberadaan kebutuhan untuk mengerti merupakan sifat yang paling menonjol dalam kesadaran manusia.[7]

 Manusia selalu terdorong untuk selalu mempertanyakan hakikat diri dan dunianya.  Akibatnya muncullah pertanyaan mengenai siapa dirinya dan dari mana ia berasal.  Muara pemikiran ini akhirnya mengarah kepada kesadaran akan eksistensi Allah yang mengatur dan menyebabkan segala sesuatu terjadi di dalam dunia.

 

Pemahaman Umum tentang Kesadaran akan Allah

Kesadaran akan Allah merupakan kesadaran tertinggi manusia untuk memahami dan bertindak sesuai pemahamannya tentang Allah yang berpribadi (masuk di dalam kerangka berpikir manusia) terhadap segala sesuatu yang dialami di dalam hidupnya.

Meskipun secara kronologis perkembangan kesadaran manusia berlangsung pada tiga tahap; sensasi (pengindraan), perseptual (pemahaman), dan konseptual (pengertian).[8]  Secara epistemologi, dasar dari segala pengetahuan manusia adalah tahap perseptual. 

 

Definisi Kesadaran akan Allah

Kesadaran akan Allah dapat meningkat ketika seseorang mengalami pengalaman rohani bersama Allah. Seorang peneliti bernama Wallace mengatakan:

The main reason in a  way of handling the evidence of religious experience has to do with  conception of the way in which experience he has in mind is direct or imediate awareness of God. And certainly it is quite common and, also natural and appropriate for believers in God to characterize their experience in this way. Second, the emphasis on direct experience of God leads to claim only that his own belief in God is justified by his experience of God.[9]

Pengalaman religius seseorang akan mempengaruhi konsepsinya  dan membangkitkan kesadaran akan Allah dalam memaknai pengalaman hidupnya.

Wallace juga  mengatakan bahwa pengetahuan akan Allah dapat memberikan pengetahuan yang melampaui akal pikirannya dalam mencermati atau memahami misteri kehidupan.

The knowledge of God is, nevertheless, a trancendental knowledge because man’s basic and original orientation toward absolute mystery, which constitutes his fundamental experience of God, is a permanent existensial of man as a spiritual subject. This means that the explicit, conceptual and thematic knowledge, which we usually think of when we speak of the knowledge of God... is a reflection upon man’s trancendental orientation towards mystery... it is not however the original and foundational mode of the trancendental experience of this mystery. It belongs necesarily to the very nature of human knowledge that thought is self reflecsive, that we think of a concrete object within the infinite and apperently empty horizon of thinking itself.[10]

Wallace berpendapat bahwa pengetahuan tentang Allah merupakan refleksi orientasi transendental manusia terhadap misteri (hal-hal yang tidak jelas).  Artinya manusia tidak sedang sungguh-sungguh mengalami misteri itu secara mendasar, karena semua yang terjadi masuk dalam refleksi diri untuk memahami segala hal yang dialaminya. Maksudnya adalah jika seseorang memiliki kemampuan refleksi diri yang rendah, ia tidak akan dapat mengalami pengalaman/pengetahuan tentang Allah dengan benar.  Namun jika seseorang tersebut memiliki kemampuan refleksi diri yang tinggi, ia akan mampu memperoleh kesadaran tentang Allah yang lebih baik.

Sebagai contoh konkret adalah jika ada dua orang mengalami sebuah pengalaman yang sama, mereka dapat merespons dengan cara yang berbeda.  Peristiwa banjir di Jakarta memberikan gambaran yang jelas.  Ada orang yang merasa bahwa ini sudah nasib yang ditentukan oleh Tuhan, sehingga mereka menerima itu dan tidak mau direlokasikan dari tempat banjir itu.  Ada yang menyikapi dengan bijak untuk mencari tempat tinggal baru; ada yang berdoa meminta agar masalah banjir segera diselesaikan; ada pula yang justru mengambil kesempatan untuk mendapatkan uang lebih dengan peristiwa itu, misalnya menyewakan ban karet atau mengambil barang-barang yang ditinggal pemiliknya. Bagi orang-orang tersebut, Allah dapat memberikan anugerah, penderitaan, kutukan, berkat, rejeki pada saat bersamaan, melalui peristiwa yang sama tergantung persepsi mereka terhadap peristiwa itu. Pemahaman tentang Allah menjadi suatu hal yang subyektif dari manusia. Sedangkan iman Kristen meyakini bahwa Allah tidak akan memberikan rancangan kecelakaan kepada manusia. Semua yang diberikan Allah adalah sesuai kehendak-Nya tanpa memerlukan persetujuan manusia.

Dari uraian di atas maka dapat diambil sebuah definisi kesadaran akan Allah yaitu: pengetahuan yang dihasilkan dari pengalaman religius/ adikodrati meliputi pencerapan, representasi, pikiran, perasaan, emosi, dan hasrat terhadap kehadiran Allah di dalam kehidupan manusia. Definisi ini memberikan dimensi kebebasan kepada manusia untuk menemukan ‘tuhannya’, bersifat subyektif, dan tidak memandang apa agamanya, sekalipun faktor keyakinan/belief turut mempengaruhi kesadaran tersebut.[11] Namun secara khusus, Alkitab memberikan batasan tentang Allah yang Esa dan berbeda dari konsep Allah di dalam pikiran manusia pada umumnya. Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia melalui berbagai cara dan pada puncaknya melalui Anak-Nya yang tunggal Yesus Kristus.

Sebagai orang percaya kepada Kristus, kesadaran akan Allah menjadi lebih nyata, karena Allah sendiri yang memberikan penyataan-Nya.[12] Sementara itu bagi banyak orang pada umumnya mereka masih mencari sosok atau figur Allah yang nyata dari apa yang mereka dapat ketahui atau alami. Misalnya melalui meditasi, perbuatan baik, penyucian diri dan lain sebagainya. Semua itu tidak memberikan kesimpulan kesadaran yang sama tentang ‘allah’ yang sesungguhnya.  Argumennya adalah karena keterbatasan akal budi manusia di dalam memahami hal adikodrati, hanya Allah sendiri yang memberikan pencerahan kepada manusia sehingga manusia dapat ‘menerima’ bukan ‘mencari’ Allah.

 

Perkembangan Kesadaran akan Allah di dalam Perjanjian Lama

Di dalam Alkitab khususnya Perjanjian Lama dikisahkan tentang bagaimana manusia selalu terkait dengan Allah. Namun pada setiap masa, kesadaran mereka tentang Allah mengalami perkembangan.

 

Zaman Penciptaan

Kejadian 1-11 mengungkapkan bahwa natur manusia diciptakan menurut rupa dan gambar Allah, sehingga mereka mempunyai kesadaran akan Allah. Meskipun manusia sudah memberontak terhadap Allah dan kehilangan hubungannya yang langsung dengan Allah. Namun kehilangan itu tidak menghancurkan gambar Allah dalam dirinya atau membinasakan kesadaran itu. Praktek religiusitas mereka melalui perkataan maupun perbuatan menunjukkan bahwa mereka tetap terkait dengan Allah. Misalnya: Hawa melahirkan Kain dan berkata bahwa ia mendapatkan seorang anak laki-laki karena pertolongan TUHAN (Kej. 4:1),  Kain mempersembahkan korban kepada TUHAN (Kej. 4:3), dan mereka mulai memanggil nama TUHAN (Kej. 4:26). 
           Dalam pasal-pasal itu Allah dikenal dengan YHWH.[13] Sekalipun manusia belum mengenal nama YHWH, namun mereka sungguh-sungguh menyembah Dia. Manusia mengenal Allah sebagai pencipta dunia, pemberi berkat, hakim dan pelindung. Mereka memberi respons pada Dia melalui bentuk persembahan, permohonan dan pemberitaan.

 Kejadian 1 -11 secara tidak langsung memperlihatkan adanya kesadaran religius pada semua manusia. Pasal-pasal itu juga menunjukkan bahwa Allah memerintah seluruh dunia dan ikut terlibat dalam segala hal yang terjadi di dunia dalam upaya untuk memelihara karya cipta-Nya.
           Dalam beberapa hal, tulisan-tulisan "hikmat" kisah penciptaan alam semesta sejajar dengan tulisan-tulisan serupa yang berasal dari Mesopotamia dan Mesir. Kesejajaran itu kadang-kadang merupakan ketergantungan secara langsung, misalnya "Ketigapuluh Ucapan" dalam Amsal 22-24. Terkadang terdapat tema, bentuk, tekanan atau cara berbicara yang menunjukkan kesamaan dengan berbagai tulisan yang berasal dari zaman dan tempat yang lain. Dalam kedua hal tersebut pengertian yang berasal dari bangsa-bangsa bukan Israel memperoleh konteks baru dalam agama Israel (bandingkan Amsal 1:7). Namun kesejajaran itu berimplikasi bahwa pengertian bangsa-bangsa asing itu kadang kala dapat dianggap benar karena memiliki kemiripan sumber.[14] 
           Menurut Perjanjian Lama, hikmat Allah turut berperan dalam penciptaan dan tercermin dalam apa yang diciptakan (Amsal 3:19-20; 8:22-31). Nafas Allah yang Mahakuasa berada di dalam manusia karena ia diciptakan (misalnya Ayub 32:8). Kedua ide itu merupakan alasan teologis untuk menganggap kebenaran Allah dicerminkan dalam dunia yang diciptakan serta dalam pengalaman, kebudayaan, pemikiran dan agama manusia. Dengan demikian tulisan hikmat menunjukkan bagaimana kesadaran akan Allah bagi orang Israel telah mentransformasi hal baik dari kebudayaan lain: nilai-nilainya diakui tetapi unsur pemujaan berhala atau politeisme dihilangkan. Mengingat ini, maka tradisi hikmat dipakai sebagai titik tolak bagi upaya mengkomunikasikan kepercayaan alkitabiah kepada kebudayaan lain dalam upaya berdialog antar-agama.

Kesadaran akan Allah pada masa penciptaan menunjukkan kesadaran spiritual yang tinggi. Kesadaran tersebut memberikan pengalaman berkomunikasi dengan Allah yang personal dan tunggal. Allah dalam pemikiran mereka bukan sekedar dewa yang berkuasa dan tidak kompromi dengan manusia tetapi pribadi yang dapat diajak berdialog langsung dengan umat-Nya.

 

Zaman Bapa-Bapa Leluhur

          Kejadian 12 - 50 berbicara tentang karya dan perkataan Allah berhubungan dengan bapa leluhur Israel, menyangkut rencana khusus yang Ia tentukan bagi mereka. Karena itu dapat dikatakan, pandangan pasal-pasal itu terhadap agama-agama asing berubah dan pandangan yang inklusif menjadi pandangan yang lebih eksklusif, sebagai dimulainya sebuah umat yang memiliki Allah secara ekslusif.

Bapa leluhur Israel tampaknya tidak menganggap bahwa bangsa-bangsa Kanaan sama sekali tidak mengenal Allah. Namun mereka mendirikan sendiri tempat-tempat pemujaan yang mereka pakai; mereka tidak menggunakan tempat-tempat pemujaan orang Kanaan, walaupun kedua tempat pemujaan itu sering terletak berdekatan. Sama seperti beberapa bangsa lain di Timur Tengah kuno, Israel senantiasa yakin bahwa Allah adalah Allah bapa leluhur mereka, yang telah menjalin hubungan khusus dan memimpin kehidupan mereka.
          Allah dalam Kejadian 12 - 50 ini diyakini sama dengan Allah yang kemudian hari disembah Israel sebagai YHWH, Namun Allah itu juga disebut dengan nama lain, yaitu  lxe, yang sering digabungkan dengan ungkapan lain.[15] Dalam bahasa-bahasa Semit kata lxe dalam bahasa Ibrani dapat berfungsi sebagai kata benda yang berarti 'ilah' (sama seperti MyhiOlx;-‘elohim, di dalam Keluaran 15:2; 20:5) atau menjadi nama pribadi untuk ilah itu. Karena itu kata lxe kadang-kadang disalin saja sebagai lxe (nama), kadang-kadang diterjemahkan 'Allah' atau 'ilah'. 
          Dalam agama Kanaan, lxe dianggap sebagai kepala dewa. Kejadian 14 menceritakan tentang Abraham dan Melkisedek, imam dan raja kota Salem yang memberkati Abraham demi nama Allah-nya - "Allah yang Mahatinggi (El Elyon), Pencipta langit dan bumi" (Kej. 14:19). Dan kemudian Abraham juga bersumpah dalam nama Allah yang sama (Kej.14: 22).

 Kejadian 21:33 memberi kesan yang sama. Dalam ayat itu dikatakan bahwa Abraham memanggil nama TUHAN, 'El Olam, Allah yang kekal. Nama tersebut dipakai untuk YHWH hanya dalam ayat ini, namun dalam naskah-naskah dari Kanaan ditemukan nama yang mirip untuk menyebut dewa orang Kanaan. Naskah-naskah itu juga menyebut  lxe  sebagai yang memberkati, yang memberi keturunan, yang menyembuhkan dan yang memimpin perang.[16] 
          Di dalam Kejadian 41:16, 19 terdapat kesan bahwa Allah Yusuf sama dengan yang disembah Firaun.  Firaun menamai Yusuf dengan sebuah nama Mesir yang dibentuk dari nama dewa, yakni Zafnat-Paaneah, dan memberikan anak perempuan seorang imam kepada dia sebagai istrinya (ayat 45). Namun ternyata pada masa keluaran, Firaun menolak untuk mengakui YHWH sebagai Allah. Riwayat keluaran mempunyai sub-tema yang menjelaskan bagaimana Firaun dipaksa untuk mengakui YHWH sebagai Allah (Keluaran 5:2; 7:5,17; 8:10,22; 9:15,29; 14:18,25). Kalaupun ada kalanya kita bersikap positif akan pengalaman dan ibadat beberapa agama lain, namun ada juga situasi di mana pertentangan tidak dapat dielakkan. Pada peristiwa keluaran dari Mesir, Israel harus menentang tuntutan agar dewa-dewa lain diakui sebagai ilah.

Sebagai kesimpulan, dapat dikatakan bahwa  ada kesejajaran antara YHWH dan El yang dipuja orang Kanaan, namun kesejajaran itu bukanlah persamaan. Kesejajaran itu tidak berarti bahwa agama Israel sama saja dengan agama Kanaan. Justru sebaliknya, bahwa agama Kanaan mempunyai wawasan yang terbatas dan berlaku secara terbatas, namun apa yang Allah mulai melalui Abraham akan berlaku bagi segala bangsa, termasuk bangsa Kanaan sendiri. Agama yang memuja YHWH itu tidak muncul melalui sinkretisme atau proses perkembangan wawasan-wawasan keagamaan saja.

Sebaliknya, Allah berkarya dalam sejarah Israel agar Ia dikenal sebagai YHWH yang menyelamatkan manusia melalui perjanjian-Nya dengan mereka; dan karya Allah itu bukan hanya untuk Israel tetapi bertujuan agar bangsa-bangsa yang pada waktu itu memuja YHWH dengan cara yang kurang sempurna, memakai nama El, nanti akan menyembah Dia dengan sempurna sebagai satu-satunya Allah.

Kesimpulannya adalah kesadaran akan Allah yang personal bukan hanya menjadi kesadaran bangsa Israel saja, tetapi juga menjadi tugas setiap umat Allah untuk menjadikan kesadaran akan Allah sebagai bagian utama di dalam kehidupan mereka. Pada masa ini kesadaran akan Allah masih tinggi karena Allah bersedia menyatakan diri secara khusus kepada Musa mengenai nama-Nya. Pengenalan mereka akan Allah sebagai Allah yang mengendalikan segala sesuatu dipahami manusia sebagai kesadaran akan keberadaan mereka sebagai umat yang harus mengabdi kepada Allahnya.

 

Zaman Perjanjian di Sinai

          Dalam Kitab Keluaran diterangkan bahwa Allah melepaskan umat-Nya dari perbudakan di Mesir. Ia mengikat perjanjian dengan mereka di Gunung Sinai, kemudian memberikan negeri Kanaan kepada mereka sebagai tanah pusaka mereka. Semuanya itu terjadi sebagai penggenapan janji-janji yang telah dibuat Allah jauh sebelumnya. Dengan demikian agama Israel, yang mengakui Allah yang sama dengan bangsa Kanaan, diberi isi yang baru. Hal itu tampak dalam penyataan diri Allah kepada Musa dengan nama YHWH dan dicerminkan dalam sentralitas nama tersebut dalam agama Israel seterusnya.  
          Allah yang dikenal dalam agama Israel itu adalah Allah yang juga dikenal secara kurang sempurna dalam agama-agama lain. Itu berarti, Israel masih dapat belajar dari agama-agama lain itu. Beberapa kebiasaan dan gagasan dalam agama Israel sejajar dengan agama-agama lain di Timur Tengah dan di daerah-daerah lain juga. Kesejajaran itu menunjukkan bahwa agama Israel dan agama-agama lain berkembang secara sejajar, namun tidak sama. Misalnya imamat dan sistem pengorbanan biasa ditemukan dalam hampir semua agama, jadi tidak perlu menganggap Israel "meminjam" unsur-unsur ini dari agama Kanaan. Namun kadang-kadang Israel meminjam unsur-unsur tertentu dari kebudayaan sezamannya. 
          Sebagai contoh, makna peristiwa keluaran dari Mesir dijelaskan dalam Perjanjian Lama memakai suatu tema dari dongeng-dongeng Kanaan, yaitu kemenangan atas laut. Rancangan Kemah Suci (Keluaran 25 - 40) serupa dengan tempat-tempat kediaman El di Kanaan, dengan susunan kerangkanya, tirai-tirai yang dihias dengan kerubim dan takhta yang diapit oleh kerubim. Contoh lain lagi dalam pembangunan Rumah Allah di Yerusalem, dan dalam cara ibadat serta pandangan tentang jabatan raja (ilahi dan insani) yang tercermin dalam Kitab Mazmur. Persamaan itu tidak berarti bahwa pranata dan konsep itu dipinjam secara langsung oleh agama YHWH, tanpa perubahan, hanya agama YHWH mencapai ekspresi yang matang dengan bantuan beberapa unsur tersebut. 
          Lebih lanjut, Kitab Ulangan memandang pemujaan dewa-dewa oleh bangsa-bangsa lain sebagai sesuatu yang telah ditentukan Allah bagi mereka (Ulangan 4:19; 32:8-9).  Alkitab tidak menyatakan bahwa agama-agama lain akan "genap" atau "lengkap" bila bangsa-bangsa akhirnya mengakui YHWH sebagai Allah. Malah sebaliknya, pengakuan YHWH sebagai Allah menunjukkan kekurangan segala pengertian keagamaan lain. Kemudian pada akhirnya, segala bangsa akan mengakui bahwa kebenaran dan keselamatan hanya terdapat dalam YHWH saja. 
          Pemujaan El tidak bertentangan dengan pengakuan itu, karena merupakan suatu bentuk dari pemujaan YHWH. Tetapi pemujaan dewa-dewa lain melanggar pengakuan tersebut.  Pengakuan rohani itu menunjukkan kesadaran akan Allah yang lebih fokus kepada satu pribadi tertentu, ketika mereka mengaku bahwa Allah telah berkarya dan menyatakan diri secara menentukan dalam sejarah Israel. 
          Kesadaran akan Allah melebihi agama seseorang. Manusia tidak hanya memerlukan lebih banyak pengetahuan tentang kodrat Allah dan hakikat manusia; ia membutuhkan pemulihan hubungannya dengan Allah, sebelum ia dapat mencapai tujuannya. Manusia membutuhkan penyelamatan, bukan hanya penyataan saja. Wawasan apapun tentang kodrat Allah dan hakikat manusia yang dimiliki agama-agama lain, mereka tidak mempunyai kunci untuk memulihkan hubungan ini dan mencapai tujuan ini, karena hal tersebut hanya ada dalam Injil.
          Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dapat disebut eksklusif dalam arti, kedua-duanya yakin akan pentingnya sejarah yang dimulai dengan janji Allah kepada para bapa leluhur Israel dan peristiwa keluaran dari Mesir. Namun kedua-duanya juga dapat disebut inklusif dalam arti, kedua perjanjian itu berkeyakinan bahwa sejarah ini akan mengikutsertakan segala bangsa.

          Dengan demikian betapapun besarnya wawasan teologis dan spiritual dalam agama-agama lain, namun dapat dikatakan bahwa agama itu tidak mencakup Injil, karena tidak mengisahkan berita Injil. Karena itu suatu agama dapat diakui sebagai titik tolak bagi perjalanan rohani seseorang, namun agama itu tidak dapat diterima sebagai tujuan akhir. Agama-agama lain tidak menyelamatkan, bukan karena lebih rendah dari agama Kristen, melainkan karena agama-agama tersebut tidak menyaksikan karya-karya Allah yang menyelamatkan. 
          Kesimpulannya pada zaman perjanjian Sinai, Allah telah mengkonkretkan kesadaran rohani umat Israel untuk dapat mengenal Dia secara pribadi melalui berbagai peristiwa sejarah yang dialaminya serta menyadarkan bangsa-bangsa di luar Israel untuk mengenal siapa Allah yang sesungguhnya. Meskipun demikian bangsa Israel masih belum sadar dan mengenal Allah YHWH dengan baik, karena mereka masih mengalami fluktuasi iman dalam setiap permasalahan yang mereka hadapi. Kesadaran akan Allah yang mereka miliki cukup tinggi karena segala kehidupan mereka masih memiliki korespondensi langsung dengan Allah, hanya terkadang tidak berjalan dengan baik karena pengalaman mereka di padang gurun dalam penyertaan Allah.

 

Zaman Israel di Kanaan

Perjanjian Lama menggambarkan ekslusivitas Allah bagi umat Israel, namun juga misi Allah yang inklusif menyatakan kehendak-Nya kepada bangsa-bangsa lain melalui umat Israel.

Yusuf dan Firaun pada zamannya memuja Allah yang sama, karena Firaun melihat bahwa Allah Yusuf benar-benar menjaga Yusuf (Kej. 41:37-39). Tetapi pada masa Musa, Firaun yang "tidak mengenal Yusuf' menolak Allah Israel. Musa harus menjadi wakil YHWH melawan dewa-dewa Mesir yang dilayani Firaun.  Peristiwa keluaran dari Mesir memperlihatkan kemenangan YHWH dan hukuman-Nya atas "semua allah di Mesir" itu      (Keluaran 12:12). Dalam hal ini YHWH bertindak dengan dua alasan, yaitu janji-Nya kepada keturunan Abraham dan keinginan-Nya menegakkan keadilan. Kedua hal ini ditentang oleh Firaun dan ilah-ilahnya. 

Dalam perkembangan berikutnya, para penduduk Kanaan semakin memusatkan pemujaan mereka pada Baal, yang menggantikan El sebagai Allah yang utama. Perjanjian Lama menilai pemujaan Baal dan dewa-dewa lain berbeda dengan penilaiannya terhadap pemujaan El. Kata ba'al dalam bahasa Ibrani berarti 'kepada yang di atas atau pemilik', sama seperti  adon (tuan). Ada kemungkinan sudah terjadi penggabungan konsep El dan Baal dalam pemahaman orang Israel tentang YHWH[17]

Kendati demikian, Perjanjian Lama tidak pernah mengizinkan pemujaan YHWH dengan menggunakan nama Baal, Bahkan nama orang seperti  lxAbA-ywexi–ish ba’al  yang berarti "orang Baal" (1 Tawarikh 8:23) diubah menjadi tweOb. Ywexi –ish boshet  yang berarti "orang hina" (2 Samuel 2:8). Agama Baal dilihat berpengaruh buruk terhadap agama Israel. Tempat-tempat pemujaan Baal harus dihancurkan (Ulangan 7 dan 12). Pengaruh Baal atas agama Israel yang dimulai pada zaman Salomo dinilai sebagai penyimpangan. Dengan demikian pemujaan YHWH sebagai 'El diterima, sedangkan pemujaan YHWH sebagai Baal ditolak. Israel menerima YHWH dan El sebagai Allah yang sama, tetapi harus memilih antara mengikuti YHWH atau Baal (l Raja 18:21; Yos. 24:14-15). 
          Alasan-alasan apa yang mendasari sikap yang berbeda terhadap agama El dan agama Baal tidak dijelaskan dalam Perjanjian Lama. Dewa mahatinggi El dapat disamakan dengan YHWH sebagai Allah satu-satunya, tetapi tidak demikian halnya dengan Baal yang bukan dewa mahatinggi. Pemujaan Baal diartikan sebagai pemujaan dewa-dewa yang lain dari YHWH, bukan sebagai pemujaan YHWH dengan nama Baal. Kuasa yang diperlihatkan dalam pengalaman Israel yang keluar dari Mesir dan menduduki Kanaan adalah kuasa 'El, sekalipun pengalaman-pengalaman itu memaksa mereka memikirkan kembali siapa El itu. Menurut orang Kanaan, Baal adalah dewa perang, dan juga dewa kesuburan. Dalam agama YHWH, cara pengikut Baal mendekati soal kesuburan itu dapat mempengaruhi pengikut-pengikut agama YHWH, dan dalam sejarah Israel terdapat contoh perzinahan yang disebabkan oleh pemujaan kepada Baal (Bil. 25:1-3). 
          Nabi Hosea menghardik Israel karena mereka dipengaruhi oleh unsur kesuburan dalam agama Baal itu. Namun ia mengambil alih gagasan agama Baal itu guna menjelaskan natur YHWH, yang secara terus terang disebut Tuhan yang memberi gandum dan anggur serta digambarkan sebagai kekasih Israel yang menjadikan dia ‘istri-Nya’ (Hosea 2:8,16,19-20). Dalam menggambarkan hubungan YHWH dengan Israel sebagai perkawinan, Hosea memakai bahasa dan kiasan orang Kanaan, sekalipun ia melawan teologi yang mereka ungkapkan melalui pemakaian bahasa dan kiasan tersebut[18]
          Pertentangan YHWH dengan dewa-dewa Mesir dan Kanaan, menunjukkan bahwa ada dimensi moral dalam pertentangan itu. Hal itu dapat membantu dalam menilai agama-agama dan kebudayaan-kebudayaan manusia. Kesadaran akan Allah yang bercampur dengan tradisi dan budaya dapat menggiring manusia kepada cara menyadari yang keliru tentang Allah.
          Pada peristiwa keluaran dari Mesir, YHWH menentang Firaun (yang dipandang sebagai dewa oleh bangsanya dan yang mewakili dewa-dewa Mesir) oleh karena ia menindas orang Ibrani. Dalam Kitab Kejadian, yang menceritakan hubungan Yusuf dan saudara-saudaranya dengan Firaun, tidak terjadi pertentangan seperti itu. Sebaliknya, Firaun pada zaman itu mengakui Allah Yusuf (Kejadian 41). Tetapi Firaun pada peristiwa keluaran itu menjalankan kebijaksanaan negara yang menindas di bidang politik, ekonomi, sosial dan agama, serta menolak mengakui Allah Musa (Keluaran 5:2). Kebijaksanaan itulah yang memacu YHWH bertindak untuk menegakkan keadilan dengan menghukum penindas dan melepaskan orang-orang tertindas. Kekalahan Firaun itu menyatakan bahwa YHWH melawan segala agama yang membenarkan tata masyarakat yang membiarkan penindasan yang tidak berperikemanusiaan. 
          Sewaktu Israel berada di negeri Kanaan, mereka bergumul selama waktu yang panjang dengan agama Baal melalui pelayanan para nabi sebelum pembuangan. Pergumulan itu memiliki ciri-ciri yang sama dengan pergumulan pada zaman Keluaran.  Agama Baal dikecam dalam kitab Taurat (misalnya Imamat 18:1-5; 20; 21). Kegiatan agama Baal bercirikan pemujaan kesuburan. Kegiatannya meliputi persundalan bakti, pengurbanan anak-anak dan ilmu gaib. Sikap yang adaptif terhadap agama orang Kanaan dalam kitab Kejadian selaras dengan kenyataan bahwa "kedurjanaan orang Amori itu belum genap" (Kejadian 15:16). Tetapi kenajisan yang dilakukan oleh penduduk-penduduk Kanaan pada abad-abad kemudian demikian hebat "sehingga negeri itu memuntahkan penduduknya" (Imamat 18:24-28). 
          Dengan kata lain, kesadaran akan Allah, bangsa Kanaan justru menunjukkan hal yang kontradiksi. Ritual keagamaan dan keyakinan mereka seolah-olah ‘menyuap’ allah mereka untuk menuruti kemauan mereka. Ketika Elia (dalam nama YHWH) menentang Baal di atas Gunung Karmel, yang menjadi pokok pertikaian bukan hanya pemujaan suatu ilah palsu melainkan juga usaha menentang sebuah sistem religi masyarakat, hukum di Israel yang diwarnai oleh agama Baal yang dibawa Izebel dari Fenisia. Peristiwa Nabot merupakan contoh usaha tersebut (1 Raja 21).

 Dalam peristiwa itu yang menjadi pokok pertikaian bukan soal agama mana yang benar, melainkan soal struktur masyarakat mana yang adil dan benar bagi Nabot dan orang lain. Agama Baal mendukung atau  tidak mengekang Ahab dan Izebel dalam perlakuan mereka terhadap Nabot. Kesimpulannya adalah bahwa setiap agama harus dinilai baik dari segi teologinya maupun tentang dampak-dampak moral, sosial dan budayanya. Kesadaran akan Allah berdampak pada sistem kehidupan masyarakat.

         Di dalam Dasa Titah Allah, khususnya perintah kedua, terdapat penggabungan larangan membuat patung dengan larangan menyembah ilah lain (Kel. 20:4-5), karena pembuatan patung dapat beralih dengan mudah menjadi penyembahan ilah lain. Sebuah patung dapat menggambarkan YHWH atau Baal, jadi adalah lebih bijaksana untuk tidak membuat patung agar agama Baal dapat dihindarkan. Dalam Ulangan 4 dikatakan, patung yang tak bergerak tidak bisa mewakili YHWH yang pada hakikatnya berbicara dan bertindak. Sesuai dengan itu, Yesaya 44 dan 46 menentang pemakaian patung di Israel, baik secara pribadi maupun secara nasional. Namun 2 Samuel 7 melawan pembangunan rumah Allah dengan alasan yang mirip, tetapi kemudian mengizinkannya.
          Alasan yang mendasari beberapa tuntutan Allah dalam agama Israel, berkaitan dengan kebudayaan baru dan Allah yang ingin membuat Israel memiliki gaya hidup umat Allah yang berbeda dengan bangsa yang lain.  Bentuk kebudayaan atau tradisi asli mereka ber-inkulturisasi dengan penyataan Allah bahwa Allah Israel benar-benar hadir dan hidup di dalam sejarah kehidupan manusia. Bangsa lain akan melihat Allah YHWH sebagai Allah yang benar dan hidup melalui kehidupan Israel.

          Kesimpulannya pada zaman ini kesadaran akan Allah sudah bercampur aduk dengan tradisi dan budaya penyembahan Baal. Akibatnya konsep kesadaran akan Allah yang personal menjadi komunal. Apa yang disadari oleh kebanyakan orang dianggap sebagai kebenaran.

Hal ini berarti sudah mulai terjadi penurunan tingkat kesadaran akan Allah.

 

Zaman Pembuangan Babel dan Persia

          Tulisan-tulisan dari zaman Babel dan Persia mendukung pendapat bahwa sikap agama Yahudi terhadap agama-agama lain bervariasi sesuai dengan situasi dan kondisi . Yesaya 40-55 melawan Bel dan Nebo dewa-dewa Babel yang disepadankan dengan El. Menurut Yesaya, YHWH adalah Allah: atau Bel dan Nebo adalah ilah-ilah. Hanya YHWH yang mampu menciptakan bumi, yang memerintah di surga, yang campur tangan dalam peristiwa-peristiwa dunia dan yang menyatakan makna peristiwa-peristiwa itu (Yes. 40:12-26; 41:1-7, 21-9; 42:5-9; 46:1-13; Yeremia 10). Babel dan agamanya akan dihukum. Yesaya 45:7 menyatakan YHWH sebagai “Dia yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang ... "

          Agaknya nabi Yesaya dengan tegas menentang dualisme agama Babel, Yesaya 40 - 55. menegaskan bahwa hanya YHWH adalah Allah dan juga menjelaskan komitmen YHWH kepada Israel sebagai umat-Nya. Karena itu bagian ini tampak sebagai bagian Perjanjian Lama yang paling nasionalis dan eksklusif. Namun selain keyakinan tadi, bagian Yesaya ini menyampaikan bahwa hubungan YHWH dengan Israel mempunyai makna bagi seluruh dunia (universal), sikap yang sama terdapat juga dalam Yesaya 56-66. Mungkin salah satu implikasi dari pandangan ini ialah bahwa YHWH menawarkan pilihan kepada bangsa-bangsa. Apabila mereka melihat karya YHWH untuk umat-Nya Israel, segala bangsa akan mengakui bahwa hanya YHWH sendiri adalah Allah. Namun mereka dapat memilih apakah mereka akan mengakui hal itu dengan rela dan sukacita, atau dengan terpaksa. 
          Berbeda dengan Yesaya 40- 55, Ezra-Nehemia dan Daniel menyebut Allah sebagai "TUHAN, Allah semesta langit", suatu gelar yang dapat diberikan kepada dewa utama bangsa-bangsa lain dalam kerajaan Persia (Ezra 1:2; 5:11-12; 6:9-10; 7:12,21,23; Neh. 1:4-5; 2:4,20; Daniel 2:18-19, 37,44; 5:23 ("Yang berkuasa di sorga"). Daniel, Ezra dan Nehemia melayani raja Persia dan - seperti Yusuf dahulu - Daniel dengan teman-temannya mendapat nama-nama asing yang mempunyai makna keagamaan. Namun demikian, Ezra dan Nehernia sama-sama menegaskan bahwa umat YHWH harus dipisahkan dari bangsa dan agama sekitarnya. Dan Daniel mengimbau supaya orang Yahudi tetap setia kepada YHWH serta hidup dengan suci (Dan.1), dan supaya mereka mempertahankan ibadat (Dan. 3) dan kesalehan mereka (Dan. 6). 
          Pandangan eksklusif dalam Kitab Ezra dan Nehernia itu menjadi sifat khas selama masa berdirinya rumah Allah yang kedua (sesudah pembuangan) dan membedakannya dari masa sebelumnya.

Pada satu pihak, Ezra dan Nehemia mengungkapkan teologi mereka dengan menggunakan beberapa istilah dari kebudayaan dan agama, seperti yang dilakukan dalam kitab Keluaran dan Hosea. Pada pihak lain, kitab Keluaran, Ulangan dan Hosea bersifat separatis seperti halnya kitab Ezra dan Nehemia. Yesaya 19 dan beberapa perikop lain dalam tulisan para nabi biasanya dipandang bersikap inklusif dan bahan itu diduga ditulis pada zaman bait Allah yang kedua. Sedangkan Yesaya 40 - 55, yang memberikan pandangan universalis dalam Perjanjian Lama, juga memuat pandangan yang paling tajam tentang agama-agama lain. 
          Jadi pandangan Perjanjian Lama tentang agama-agama lain bervariasi sesuai dengan sifat agama-agama tersebut dan juga sesuai dengan pengenalan mereka tentang figur Allah yang mereka yakini. Kesadaran akan Allah semakin meningkat dengan format yang berbeda-beda dalam setiap agama yang ada pada masa itu. Pembangunan bait Allah menjadi tolok ukur kesadaran mereka bahwa Allah yang mereka sembah memerlukan tempat khusus agar umat-Nya dapat datang dan menyembah Dia.

Kesimpulannya bahwa kesadaran akan Allah pada zaman ini bagi orang Israel pada umumnya telah mengalami penurunan. Pengenalan mereka tentang Allah dibatasi oleh agama-agama dan ritualnya sehingga pengenalan akan Allah menjadi sebuah klise atau pola hidup yang tidak  natural dan legalistik. Mereka beragama sebagai bentuk kewajiban bukan karena sungguh-sungguh memiliki pengenalan akan Allah yang  personal.

 

Zaman Yunani

          Pandangan pada zaman Yunani, yaitu zaman terakhir yang tulisannya termuat dalam Perjanjian Lama, hampir sama dengan pandangan yang diuraikan pada zaman Babel dan Persia di atas. Seperti Daniel (Daniel 5:23), raja Babel berpandangan bahwa YHWH sama dengan "Yang Berkuasa di sorga", dewa tertinggi Siria. Pada zaman tertentu dan dalam arti tertentu orang Yahudi mungkin dapat menerima pandangan itu, namun ternyata penglihatan dalam Kitab Daniel menunjukkan bahwa keduanya tidak saling sesuai. Mengikuti perintah-perintah raja dalam bidang agama berarti tidak setia kepada Allah Israel.

Board for Mission and Unity menyatakan bahwa Perjanjian Lama memberi kesan keterbukaan terhadap agama-agama lain terkadang dapat diterima, tetapi ada kalanya keterbukaan itu membahayakan agama dan bangsa Israel, sehingga harus ditolak.  Ketika Israel bersikap terbuka terhadap agama-agama lain, ia menjadi sangat kreatif dan ketika ia bersikap eksklusif dan menutup diri, ia makin dipermiskin.[19]

Pernyataan mereka tidak dapat diterima karena di dalam  Kitab Daniel, ia dan ketiga rekannya bersikap eksklusif dan menutup diri, namun justru sangat kreatif. Konteks kehidupan Israel yang pluralistik menyediakan gambaran beberapa contoh tentang cara berhubungan dengan agama-agama lain dengan kesadaran spiritualitas yang berbeda.
          Jadi kesimpulannya bahwa pada zaman Yunani, kesadaran akan Allah semakin plural, artinya keterbukaan kepada berbagai pandangan yang berbeda semakin dianggap hal biasa. Hal ini berpengaruh terhadap  kesadaran akan Allah yang semakin sekuler. Perbedaan tidak dipersoalkan lagi karena dianggap setiap orang berhak memiliki kesadarannya sendiri tanpa merasa harus memperdebatkan siapa yang benar dan salah. Akibat berikutnya adalah kesadaran akan Allah menjadi bias sehingga tidak lagi mempersoalkan apakah seseorang itu atheis, politheis, atau monotheis.

Konklusi

Perjanjian Lama mengungkapkan sejumlah kisah yang mengindikasikan bahwa kesadaran akan Allah semakin berkembang di dalam caranya memahami tentang campur tangan Allah di dalam setiap kehidupan manusia. Manusia mengalami dinamika kesadaran akan Allah karena mengikuti era atau jaman di mana mereka hidup. Namun satu hal yang pasti bahwa Allah sudah ada sejak pada mula segala ciptaan dijadikan dan dari waktu ke waktu, Dia menyatakan diri-Nya.  Upaya manusia di dalam memahami Allah tanpa campur tangan Allah akan berakibat munculnya kesadaran akan Allah yang klise atau sebatas memenuhi kepuasan batin saja. 

Sementara itu ketika kesadaran akan Allah dibangun atas dasar pernyataan Allah dan pengalaman pribadi seseorang dengan Allah, maka yang terjadi adalah kesadaran mereka akan Allah menjadi sangat personal dan tertutup.  Dinamika perkembangan religius manusia menunjukkan bahwa sampai kapanpun manusia dan Allah akan terus memiliki relasi yang berkembang sampai akhir jaman. Kehadiran Allah dalam kehidupan manusia menunjukkan bahwa manusia sebagai umat yang ber Tuhan akan selalu membutuhkan Tuhan yang berkuasa untuk mengatur dan mengelola alam semesta menurut otoritas-Nya.

 

Notes

[1]Purwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), 765.

[2]Lorens Bagus, Kamus Filsafat (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996), 453.

[3]AS. Hornby, Oxford Advances Learner’s Dictionary (New York: Oxford University Press, 2000), 261.

[4]Aware means 1. knowing or realizing something, 2. Noticing that something is present, 3. Interested in and knowing about something and thinking it is important. Ibid., 72.

[5]Alain Morin, Levels of Consciousness and Self Awareness: A Comparison and Integration of Various Views (Canada: Mount Royale College, 2007), 1.

[6]Louis Leahy, Filsafat Ketuhanan Kontemporer (Yogyakarta:  Kanisius), 38-42.

[7]Ibid., 42.

[8]D. Chalmers, The Conscious Mind: In Search of a Fundamental Theory (New York: Oxford University Press.1996), 124.

[9]Stan W. Wallace, Does God exist?  (England: Ashgate Publising Company, 2003), 61.

[10]William P. Alston, Perceiving God. The Epistemology of Religious Experiment (New York: Cornell University Press, 1991), 31.

[11]Johanes Robini M, dan H.J. Suhendra,  Penderitaan dan Problem Ketuhanan (Yogyakarta:Kanisius,1996), 36.

[12]Sidney Greidanus, Preaching Christ from The Old Testament (Bandung: Kalam Hidup, 1999), 224.

[13]Dalam Alkitab berbahasa Ibrani, setiap kali muncul kata hvhy  -YHWH maka mereka akan membacanya ynaOdxA Adonay yang berarti Tuhanku. Bangsa Israel melakukan hal ini karena berkaitan dengan teologi kekudusan. Bahwa mereka tidak boleh menyebut nama Tuhan dengan sembarangan.

[14]Geoffrey Bromiley. The International Standard Bible Encyclopedia (Michigan: William Eerdmans Publishing Company,1988),1077.

[15]Misalnya 'El Elyon. 'Allah yang Mahatinggi', Kejadian 14:18-22: 'El Roy, 'Allah yang melihat aku', 16:13: 'El Shadday, 'Allah yang Mahakuasa', 17:1; 28:3; 35:11; 43;14; 48:3: 'El Olam, 'Allah yang kekal', 21:33.

[16]William G Dever. Who were the Early Israelites? (Michigan: Grand Rapid,2003), 199.

[17]Cross, F. M. Canaanite Myth and Hebrew Epic (Cambridge: Massachusetts/London HUP, 1973), 163. 

[18]Daniel G.Reid, Dictionary of The Old Testament Prophets (England: Inter Varsity Press), 347.

[19]Cross F.M. Towards a Theology for lnter-Faith Dialogue (London: Board for Mission and Unity of the General Synod of the Church of England, 1984), 30.